Sunday, December 18, 2011

TERJEMAH SHOROF

Fiil berdasar perubahan atau tasrifnya terbagi menjadi 2: 1) الجا مد adalah fiil yang tetap pada satu bentuk, yang berupa bentuk madhi dan amar. Fiil-fiil yang berbentuk madhi: - ليس dan ما دَامَ : sebagian dari saudaranya كاَ نَ - كَرَبَ : sebagian dari fiil arti dekat (المُقاَربَهْ) - عَسَى, حَرى, اِخْلَوْلَقَ : sebagian dari fiil arti harapan (الرَّجاَء) - نِعْمَ , بِئْسَ , حَبَّذ َا , لاَ حَبَّذ َ : sebagian dari fiil arti memuji dan mencela (المدح و الذ م) - خلاَ,عَدَا : sebagian dari fiil arti pengecualian (الاستثناء) - أخَذ َ, انْشَاْ, شَرَع َ : sebagian dari fiil arti berbuat (الشروع) Fiil-fiil yang berbentuk amar: - هَبْ bermakna ظنّ - تَعَلَّمْ bermakna اعْلَمْ 2) المتصرف adalah fiil yang tidak tetap pada satu betuk. Yang terbagi menjadi 2 yaitu: 1. افعال تامة التصرف: fiil yang sempurna tasrifannya (bentuk madhi,mudhore’ dan amar). 2. افعال ناقصة التصرف: fiil yang kurang sempurna tasrifannya (madhi,mudhore’) - ماَزالَ, مابَرحَ, مافتئ, ماانفكَّ : sebagian dari saudaranya كاَ نَ - كادَ, أ شكَّ : sebagian dari fiil arti dekat (المُقاَربَهْ) - طَفِقَ, جَعَلَ : sebagian dari fiil arti berbuat (الشروع) كيفية التصريف Cara Mentasrif • Fiil mudhore’ - Fiil mudhore’ di bentuk dari fiil madhi dengan menambahkan huruf mudhoro’ah (أ نيت) dengan di baca dhommah ketika ruba’I dan di baca fathah selain ruba’i. - Jika fiil tsulasi maka di sukun fa’ fiilnya dan di harokati dhommah,kasroh,fathah a’in fiilnya yang telah di tetapkan bahasa. - Dan apabila fiilnya selain tsulasi maka keadaanya tetap ketika di awali ta’ zaidah, dan apabila tidak di awali ta’ zaidah maka maka dan hamzahnya di buang ketika di awali dengan hamzah zaidah. • Fiil amar - Fiilamar di ambil atau di bentuk dari fiil mudhore’ yang di buang huruf mudhoro’ahnya. Contoh: يَضْرِبُ menjadi اِضْرِبْ - Jika di awalnya itu sukun maka di tambah hamzah washol di permulaannya dengan harokat kasroh kecuali fiil tsulasi yang di dhommah a’in fiilnya maka hamzahnya juga di dhommah. Contoh: اِجْتَمَعَ يَجْتَمِعُ اِجْتَمِعْ. التصريف اللغوي ((تحويل الفعل بحسب فاعله من الضما ئر)) Fiil madli dan fiil mudhore’ mabni ma’lum  Kaidah bina’ shohih dan mahmuz: • Fiil madli dan fiil mudhore’ yang bina’ shohih dan mahmuz ketika di sandarkan pada dhomir maka tidak terjadi perubahan sebagaimana contoh di jadwal. • Fiil mudhore’ bina’ mahmuz fa’ jika di sandarkan pada dhomir mutakalim wahdah maka hamzah kedua dig anti mad(di baca panjang). Contoh: امُلُ  Kaidah bina’ mudho’af tsulasi dan ruba’i: • Fiil madli dan fiil mudhore’ bina’ mudho’af tsulasi bila tidak bertemu dengan dhomir rofa’ mutaharek maka wajib idghom (fiil madli:1-5, fiil mudhore’:1-5,7-11,13,14) , namun apabila bertemu dhomir rofa’ mutaharek maka wajib melepas idghom(fiil madli:6-14,fiil mudhore’:6,12) • Bina’ mudho’af ruba’i tasrifnya sama dengan bina’ shohih tidak terjadi perubahan, sebagaimana yang ada pada jadwal.  Kaidah bina’ mitsal: • Fiil madli dan fiil mudhore’ bina’ mitsal jika di sandarkan pada dhomir maka tidak terjadi perubahan sebagaimana contoh dalam jadwal. • Fa’ fiil bina’ mitsal wawu (وَاوُ) pada fiil mudhore’ dibuang jika mengikuti wazan: - فَعَلَ يَفْعِلُ contoh: وَعَدَ يَعِدُ - فَعِلَ يَفْعِلُ contoh: وَرِثُ يَرِثُ - فَعَلَ يَفْعَلُ contoh: وَضَعَ يَضَعُ • Fa’ fiil bina’ mitsal wawu (وَاوُ) pada fiil mudhore’ tidak dibuang jika mengikuti wazan: - فَعِلَ يَفْعَلُ contoh: وَجِلَ يَوْجَلُ - فَعُلَ يَفْعُلُ contoh: وَقُرَ يَوْقُرُ • Fa’ fiil bina’ mitsal ya’i pada fiil mudhore’ juga tidak di buang. Contoh: يَسََرَ يَيْسِرُ  Kaidah bina’ ajwaf: • Bina’ ajwaf jika di sandarkan pada dhomir rofa’ mutahare’ maka huruf ‘illatnya di buang (fiil madli: 6-14, fiil mudhore’: 6,12). • Fiil madli bina’ ajwaf bila di sandarkan pada dhomir rofa’ mutahare’ maka fa’ fiilnya di harokati dengan: - Dhommah bila mengikuti wazan: فَعُلَ يَفْعُلُ , فَعَلَ يَفْعُلُ - Kasroh bila mengikuti wazan: فَعَلَ يَفْعِلُ, فَعَلَ يَفْعَلُ  Kaidah bina’ naqis: • Bina’ naqis pada fiil madli yang akhirnya alif seperti lafadz غَزاَ dan رَمَى bila bertemu dengan ta’ ta’nits maka alifnya di buang. • Fiil madli bina’ naqis yang akhirnya alif seperti lafadz غَزاَ dan رَمَى bila bertemu dengan alif tasniah atau dhomir rofa’ mutaharek maka: 1. Bila fiil tsulasi alif di kembalikan pada asalnya. 2. Bila fiil ghoiru tsulasi maka alif dig anti ya’ • Bina’ naqis yang akhirnya wawu atau ya’ pada fiil madhi seperti lafadz سَرُوَ dan رَضِيَ dan pada fiil mudhore’ seperti lafadz يَغْزُ, يَسْرُوdan يَرْمِىْ bila di sandarkan pada selain wawu jama’ atau ya’ mukhotobah maka tidak terjadi perubahan (fiil madhi:1,2,4-14 dan fiil mudhore’: 1,2,4-8,11-14). • Bina’ naqis pada fiil madhi dan fiil mudhore’ bila di sandarkan pada wawu jama’ atau ya’ mukhotobah maka huruf ‘ilat di buang dengan ketentuan: 1. Bila yang di buang alif, maka huruf sebelum wawu dan ya’ di harokati fathah, contoh: غَزَا: غَزَوْا, رَمَى: رَمَوْا dan يَرضَى: يَرْضَوْنَ. 2. Bila yang di buang bukan alif, maka huruf sebelum wawu di harokati dhommah dan huruf sebelum ya’ di harokati kasroh, contoh: • Bina’ naqis pada fiil mudhore’ yang akhirnya alif, bila di sandarkan pada alif tasniyah atau nun niswah, maka alif dig anti dengan ya’.  Kaidah bina’ lafif maqrun dan lafif mafruq: • Bina’ lafif maqrun pengamalannya seperti bina’ naqis. • Bina’ lafif mafruq untuk fa’ fiilnya pengamalannya seperti bina’ misal sedangkan lam fiilnya pengamalannya seperti bina’ naqis. Fiil madhi dan fiil mudhore’ mabni majhul  Kaidah bina’ shohih, mudho’af tsulasi,mitsal dan naqis: Fiil di lihat dari segi atas kebutuhan atas fa’il terbagi menjadi 2: 1. Fiil ma’lum adalah: fiil yang fa’ilnya di sebutkan. Contoh: حَفِظَ مُحَمّدٌ الدّ رسَ. 2. Fiil majhul adalah: fiil yang fa’ilnya tidak di sebutkan. Contoh: حُفِظَ الدّ رسُ. Cara membentuk manbi ma’lum ke mabni majhul: • Ababila fiil madhi maka huruf sebelum akhir di kasroh dan huruf awalnya di dhommah. (ضُمَّ اَوّلُهُ وَكُسِرَ ماَ قَبْلَ اَخِرْ). Contoh: نُصِرَ, وُعِدَ • Apabila fiil mudhore’ maka huruf awalnya di dhommah dan huruf sebelum akhir di fathah.( ضُمَّ اَوّلُهُ وَفُتِحَ ماَ قَبْلَ اَخِرْ ). Contoh: يُنْصَرُ, يُوْعَدُ  Kaidah bina’ ajwaf: • Fiil madhi bina’ ajwaf yang huruf sebelum akhir berupa alif maka alif diganti ya’ dan huruf sebelum ya’ di harokati kasroh, contoh: صاَ نَ ,خَافَ بَاع َ menjadi صِيْنَ, خِيْفَ, بِيْعَ • Fiil mudhore’ bina’ ajwaf yang huruf sebelum akhir di baca mad (panjang) maka mad tersebut diganti alif, contoh: يَصُونُ, يَخاَفُ,يَبِيْعُ menjadi يُصَانُ, يُخَافُ, يُبَاع ُ. • Fiil madhi bina’ ajwaf pada mabni ma’lum yang di sandarkan pada dhomir rofa’ mutaharek maka: apabila fa’ fiilnya di harokati dhommah maka diganti kasroh dan apabila fa’ fiilnya di harokati kasroh maka diganti dhommah supaya tidak sama antara mabni ma’lum dan majhul. Contoh: صُنَّ,خِفْنَ menjadi صِنَّ,خُفْنَ. Fiil mudhore’ mabni ma’lum yang di taukidi dengan nun taukid.  Kaidah: • Nun taukid ada 2 yaitu: 1. Nun taukid tsaqilah: nun yang di tasydid dan di kharokati fathah. 2. Nun taukid khofifah: nun yang di sukun. • Nun taukid khofifah itu bisa menempati tempatnya nun taukid tsaqilah kecuali setelah alif tasniah dan nun niswah. • Fiil mudhore’ yang dikukuhkan (di taukidi) dengan nun maka berlaku beberapa hokum, yaitu: 1. Di buang dhommah atau nun tanda rofa’. 2. Di sandarkan pada dhomir mustatir atau isim dhohir yang di fathah akhirnya dan alif bina’ naqis dig anti ya’ (1,4,7,13,14). 3. Di sandarkan pada alif tasniah yang nun taukid tsaqilahnya di harokati kasroh (2,5,8,11) 4. Di sandarkan pada nun jama’ niswah yang di antara kedua nun tersebut di pisah dengan alif dan nun taukid tsaqilahnya di harokati kasroh (6,12) 5. Di sandarkan pada wawu jama’ atau ya’ muanas mukhotobah yang wawu jama’ atau ya’ muanas mukhotobah tersebut di buang kecuali terdapat pada fiil mu’tal alif, maka wawu jama’ tersebut tetap dengan di harokati dhommah dan ya’ muanas mukhotobah juga tetap dengan harokat kasroh (3,9,10). Fiil amar mabni ma’lum yang ghoib dan hadir.  Kaidah: • Sebagian dari amil jazem yaitu lam amar yang boleh di masukkan pada fiil mudhore’(1-12). • Tanda I’rob jazem ada 3: 1. Sukun, bertempat pada fiil mudhore’ shohih akhir yang akhirnya tidak bertemu sesuatu (1,4,7). 2. Membuang huruf ‘ilat, bertempat pada fiil mudhore’ mu’tal akhir yang akhirnya tidak bertemu sesuatu. 3. Membuang nun, bertempat pada af’al khomsah (2,3,5,8-11). Dan apabila fiil mudhore’ bertemu nun niswah maka di mabnikan sukun (6,12). • Fiil amar bisa di tasrif menjadi 6 bentuk: 3 bentu mukhotob(1,2,3), dan 3 berbentuk mukhotobah(4,5,6). • Fiil amar di ambil dari fiil mudhore’ yang di buang huruf mudhoro’ahnya, apabila huruf awalnya sukun maka di tambah hamzah washol yang dikasroh, contoh: اِضْرِبْ, اِفْتَحْ, kecuali fiil tsulasi yang a’in fiilnya di dhommah maka hamzah washolnya juga di dhommah, contoh: اُنْصُرْ, اُحْسُنْ. • Fiil amar mahmuz fa’ yang di ucapkan di awal kalimat maka hamzah fiil amar tersebut diganti wawu apabila huruf sebelum wawu di harokati dhommah contoh: اُوْمُلْ dan dig anti ya’ apabila huruf sebelum ya’ di harokati kasroh,ِcontoh: اِيْتِ dan fiil amar yang di ambil dari اَخَذ َ dan اَكَلَ maka hamzahnya di buang secara mutlak contoh: خُذْ dan كُلْ. Dan fiil • amar dari lafadz اَمَرَ dan سَأ لَ yang ada di awal, contoh: مُرْ dan سَلْ. • Fiil mudhore’ bina’ mudho’af tsulasi yang di jazemkan dengan sukun itu boleh melepas idghom dan tetap idghom contoh: لِيمْدُدْ juga boleh لِيَمُدَّ. • Fiil amar sama dengan fiil mudhore’ dalam hal jazem.  Kaidah: • Membuang fa’ fiil bina’ misal dari fiil mudhore’ dan fiil amardengan syarat berupa bina’ misal wawi yang di kasroh a’in fiilnya dalam bentuk fiil mudhore’ dan di fathah fa’ fiilnya dalam bentuk fiil madhi dan mudhore’ contoh: يَعِدُ عِدْ وَغَدَdan وَضَعَ يَضَعُ ضَعْ. • A’in fiil bina’ ajwaf dari fiil mudhore’ yang di jazemkan dengan sukun atau mabni sukun maka a’in fiil tersebut di buang dan dari fiil amar yang mabni sukun a’in fiilnya juga di buang(fiil mudhore’: 1,4,6,7,12 dan fiil amar: 1,6),apabila fiil mudhore’ dan fiil amar di mabnikan dengan membuang nun maka a’in fiilnya bina’ ajwaf tidak di buang(fiil mudhore’: 2,3,5,8-11 dan fiil amar: 2-5).  Kaidah: • Tasrifnya fiil mudhore’ bina’ naqis dan bina’ lafif yang di sandarkan pada dhomir kaidahnya sebagaimana yang sudah lewat. • Fiil mudhore’ bina’ naqis dan bina’ lafif di jazemkan dengan membuang huruf ‘illat ketika tidak bertemu dengan sesuatu di akhir kalimat(1,4,7). • Fiil amar bina’ naqis dan bina’ lafif sama dengan fiil mudhore’ dalam hal di jazemkan. Fiil amar mabni majhul.  Kaidah: • Penjelasan fiil mudhore’ mabni ma’lum ke majhul baik yang shohih akhir maupun mu’tal kahir itu sudah lewat. • Tanda I’rob jazem pada fiil mudhore’ baik shohih akhir maupun mu’tal akhir kaidahnya juga telah lewat.  Kaidah: • fiil amar yang di taukidi dengan nun taukid baik yang hadir maupun yang ghoib itu sama dengan fiil mudhore’ ketika di taukidi.  Kaidah: • la nahi termasuk bagian dari amil jazem, dan penjelasan dari tanda I’rob jazem sudah lewat. مَنْ جَدَّ وَجَدَ DO THE BEST TO GET THE BEST

0 comments:

Post a Comment